![]() |
| Mangap terus |
Fenomena akhir-akhir ini berkebalikan dengan kata membisu. Karena setiap orang berlomba-lomba untuk bicara dan unjuk gigi berebut kekuasaan dari mulai Lurah, Bupati, Gubernur, Anggota dewan (sekarang kayaknya bukan lagi anggota dengan perwakilan rakyat karena perwakilan rakyatnya jarang disebut), Presiden semua saling diperebutkan.
Fenomena ini terjadi mungkin karena orang berlebihan rasa ingin bicara atau karena selama ini (sebelum era Reformasi) orang atau rakyat dibungkam, dipaksa membisu sehingga begitu lepas bungkamannya semua orang ingin bicara bahkan lupa untuk mendengarkan.
Membisu, membisukan diri, menjauhkan diri dari nafsu untuk terus berbicara adalah salah satu metode pemurnian pikiran. Hampir seluruhnya dalam hidup ini jikalau berlebihan itu akan menimbulkan bencana. Bahkan dalam beragama pun kita dilarang untuk berlebihan dalam beragama. Saya tidak akan membahas tentang agama karena saya termasuk golongan abangan.
Berbicara, berbicara dan berbicara. orang begitu sibuknya untuk berbicara bahkan termasuk saya sekarang ini sedang sibuk berbicara dalam tulisan meskipun mulut saya berpuasa untuk tidak berbicara. Bagaimana bisa jernih pemikiran kita jika kita berfikir sambil bicara, memang sebagian dari orang diantara kalian mampu untuk melakukan itu. Tetapi pada dasarnya manusia itu hanya bisa fokus pada suatu hal.
Ambillah jarak untuk berhenti berbicara, coba renungkan bagaimana seandainya kamu terus berbicara. Tentu dengan lepas dari sesuatu dan memandangnya dari luar itu akan jauh lebih jernih ketimbang kita masuk kedalamnya. Untuk itu membisulah ketika mulutmu itu tak mau diam, dan teriaklah ketika mulutmu itu tidak mau bicara.
Berbicara atau diam itu akan menjadi sebuah penyakit jika engkau berlebihan dalam melakukannya.

No comments:
Post a Comment